Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung PPh 21, antara lain metode gross dan metode netto. Metode gross menghitung PPh 21 dari total penghasilan, sementara metode netto menghitung PPh 21 dari penghasilan setelah dikurangi biaya jabatan dan iuran BPJS Ketenagakerjaan.
Contoh perhitungan PPh 21 dapat membantu wajib pajak memahami cara menghitung PPh 21 dan memperkirakan besarnya pajak yang harus dibayar. Dengan memahami cara menghitung PPh 21, wajib pajak dapat menghindari kesalahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
Contoh Perhitungan PPh 21
Contoh perhitungan PPh 21 sangat penting untuk membantu wajib pajak menghitung dan membayarkan pajak penghasilan mereka dengan benar. Berikut adalah 8 aspek penting terkait contoh perhitungan PPh 21:
- Penghasilan bruto
- Biaya jabatan
- Penghasilan neto
- Tarif PPh 21
- PTKP
- PPh 21 terutang
- Pembayaran PPh 21
- Sanksi keterlambatan
Semua aspek ini saling berkaitan dan memengaruhi besarnya PPh 21 yang harus dibayar. Misalnya, semakin tinggi penghasilan bruto, semakin tinggi pula PPh 21 terutang. Sebaliknya, semakin besar biaya jabatan, semakin kecil penghasilan neto dan PPh 21 terutang.
Dengan memahami contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghindari kesalahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
Penghasilan bruto
Penghasilan bruto merupakan penghasilan yang diterima oleh wajib pajak sebelum dikurangi biaya jabatan dan iuran BPJS Ketenagakerjaan. Penghasilan bruto menjadi dasar pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. Semakin tinggi penghasilan bruto, semakin tinggi pula PPh 21 yang harus dibayar.
-
Komponen Penghasilan Bruto
Penghasilan bruto terdiri dari gaji, upah, tunjangan, biaya jabatan, dan fasilitas yang diterima oleh wajib pajak. -
Contoh Penghasilan Bruto
Contoh penghasilan bruto adalah gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, dan bonus tahunan. -
Implikasi Penghasilan Bruto dalam Perhitungan PPh 21
Penghasilan bruto menjadi dasar perhitungan PPh 21. Semakin tinggi penghasilan bruto, semakin tinggi PPh 21 yang harus dibayar. Oleh karena itu, wajib pajak harus menghitung penghasilan bruto dengan benar untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan PPh 21.
Dengan memahami hubungan antara penghasilan bruto dan contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghitung dan membayarkan PPh 21 dengan benar. Hal ini penting untuk menghindari kesalahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
Biaya Jabatan
Biaya jabatan merupakan pengeluaran yang dikeluarkan oleh wajib pajak untuk menjalankan pekerjaan dan memperoleh penghasilan. Biaya jabatan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk mendapatkan penghasilan neto yang menjadi dasar pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. Dengan demikian, biaya jabatan dapat memengaruhi besarnya PPh 21 yang harus dibayar oleh wajib pajak.
Contoh biaya jabatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto antara lain:
- Biaya transportasi untuk berangkat dan pulang kerja
- Biaya makan dan minum selama perjalanan dinas
- Biaya pakaian seragam
- Biaya peralatan kerja
- Biaya kursus atau pelatihan yang berhubungan dengan pekerjaan
Dengan memahami hubungan antara biaya jabatan dan contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat mengoptimalkan pengurangan biaya jabatan dan meminimalkan PPh 21 yang harus dibayar. Hal ini penting untuk menghemat pengeluaran dan meningkatkan take home pay.
Sumber:
- Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.010/2016 tentang Tata Cara Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21
Penghasilan neto
Penghasilan neto merupakan penghasilan yang diperoleh setelah dikurangi biaya jabatan dan iuran BPJS Ketenagakerjaan. Penghasilan neto menjadi dasar pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. Semakin tinggi penghasilan neto, semakin tinggi pula PPh 21 yang harus dibayar.
-
Komponen Penghasilan Neto
Penghasilan neto terdiri dari gaji, upah, tunjangan, dikurangi biaya jabatan dan iuran BPJS Ketenagakerjaan.
-
Contoh Penghasilan Neto
Contoh penghasilan neto adalah gaji pokok dikurangi biaya transportasi untuk berangkat dan pulang kerja.
-
Implikasi Penghasilan Neto dalam Perhitungan PPh 21
Penghasilan neto menjadi dasar perhitungan PPh 21. Semakin tinggi penghasilan neto, semakin tinggi PPh 21 yang harus dibayar. Oleh karena itu, wajib pajak harus menghitung penghasilan neto dengan benar untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan PPh 21.
-
Tips Mengoptimalkan Penghasilan Neto
Untuk mengoptimalkan penghasilan neto, wajib pajak dapat melakukan beberapa hal, seperti mengurangi biaya jabatan yang tidak perlu dan mengoptimalkan pengurangan iuran BPJS Ketenagakerjaan.
Dengan memahami hubungan antara penghasilan neto dan contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghitung dan membayarkan PPh 21 dengan benar. Hal ini penting untuk menghindari kesalahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
Tarif PPh 21
Tarif PPh 21 adalah hal yang sangat penting dalam contoh perhitungan PPh 21. Tarif ini menentukan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi pula tarif PPh 21 yang harus dibayar.
-
Tarif PPh 21 untuk Penghasilan Tahunan
Tarif PPh 21 untuk penghasilan tahunan adalah sebagai berikut:
- Penghasilan sampai dengan Rp 50.000.000,-: 5%
- Penghasilan lebih dari Rp 50.000.000,- sampai dengan Rp 250.000.000,-: 15%
- Penghasilan lebih dari Rp 250.000.000,- sampai dengan Rp 500.000.000,-: 25%
- Penghasilan lebih dari Rp 500.000.000,-: 30%
-
Tarif PPh 21 untuk Penghasilan Tidak Tetap
Tarif PPh 21 untuk penghasilan tidak tetap adalah 20%. Penghasilan tidak tetap adalah penghasilan yang diterima tidak dalam jangka waktu tertentu, seperti honorarium, hadiah, dan bonus.
Dengan memahami tarif PPh 21, wajib pajak dapat menghitung dan memperkirakan besarnya PPh 21 yang harus dibayar. Hal ini penting untuk menghindari kesalahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
PTKP
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam contoh perhitungan PPh 21. PTKP adalah batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak. Dengan kata lain, PTKP adalah jumlah penghasilan yang boleh diterima wajib pajak tanpa dikenakan PPh 21.
Besaran PTKP berbeda-beda tergantung status perkawinan dan jumlah tanggungan wajib pajak. PTKP untuk wajib pajak yang belum menikah adalah Rp 54.000.000 per tahun, sedangkan untuk wajib pajak yang sudah menikah dan memiliki tanggungan istri/suami adalah Rp 63.000.000 per tahun. Untuk setiap tanggungan anak, PTKP ditambah Rp 4.500.000 per tahun.
PTKP sangat berpengaruh terhadap besarnya PPh 21 yang harus dibayar. Semakin besar PTKP, semakin kecil penghasilan neto yang dikenakan pajak, sehingga PPh 21 yang harus dibayar juga semakin kecil. Oleh karena itu, wajib pajak harus mengetahui dengan benar berapa PTKP yang menjadi haknya agar dapat menghitung PPh 21 dengan tepat.
Contoh perhitungan PPh 21 dengan mempertimbangkan PTKP:
Wajib pajak A belum menikah dan memiliki penghasilan tahunan sebesar Rp 70.000.000. PTKP untuk wajib pajak A adalah Rp 54.000.000 per tahun.
Penghasilan neto yang dikenakan pajak = Rp 70.000.000 - Rp 54.000.000 = Rp 16.000.000
Tarif PPh 21 untuk penghasilan di atas Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 250.000.000 adalah 15%.
PPh 21 yang harus dibayar = Rp 16.000.000 x 15% = Rp 2.400.000
Dengan memahami hubungan antara PTKP dan contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghitung dan membayarkan PPh 21 dengan benar. Hal ini penting untuk menghindari kesalahan dalam pelaporan dan pembayaran pajak, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
Sumber:
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
PPh 21 terutang
Dalam contoh perhitungan PPh 21, PPh 21 terutang merupakan pajak penghasilan Pasal 21 yang harus dibayar oleh wajib pajak setelah memperhitungkan seluruh komponen yang memengaruhi perhitungan PPh 21, seperti penghasilan bruto, biaya jabatan, PTKP, dan tarif PPh 21. PPh 21 terutang sangat penting untuk diketahui oleh wajib pajak agar dapat mempersiapkan dan membayarkan pajak dengan benar.
-
Komponen Penghitungan PPh 21 Terutang
PPh 21 terutang dihitung berdasarkan penghasilan neto yang merupakan penghasilan bruto dikurangi biaya jabatan dan iuran BPJS Ketenagakerjaan. Penghasilan neto kemudian dikalikan dengan tarif PPh 21 sesuai dengan lapisan penghasilan yang dikenakan pajak.
-
Contoh Perhitungan PPh 21 Terutang
Misalnya, seorang wajib pajak memiliki penghasilan bruto sebesar Rp 100.000.000 per tahun dan biaya jabatan sebesar Rp 10.000.000 per tahun. Penghasilan neto wajib pajak adalah Rp 90.000.000 per tahun. Tarif PPh 21 untuk penghasilan di atas Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 250.000.000 adalah 15%. Maka, PPh 21 terutang wajib pajak adalah Rp 90.000.000 x 15% = Rp 13.500.000 per tahun.
-
Implikasi PPh 21 Terutang
PPh 21 terutang menjadi dasar pembayaran PPh 21 yang harus dibayar oleh wajib pajak. Wajib pajak dapat membayarkan PPh 21 terutang melalui pemotongan langsung dari gaji atau upah yang dilakukan oleh pihak pemberi kerja (PPh 21 yang dipotong) atau dengan cara menyetor sendiri ke kas negara (PPh 21 yang disetor sendiri).
-
Sanksi Keterlambatan Pembayaran PPh 21 Terutang
Wajib pajak yang terlambat membayar PPh 21 terutang akan dikenakan sanksi berupa denda dan bunga. Oleh karena itu, wajib pajak harus menghitung dan membayarkan PPh 21 terutang dengan benar dan tepat waktu.
Dengan memahami hubungan antara PPh 21 terutang dan contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghitung, mempersiapkan, dan membayarkan PPh 21 dengan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini penting untuk menghindari sanksi perpajakan dan memenuhi kewajiban perpajakan sebagai warga negara yang baik.
Pembayaran PPh 21
Pembayaran PPh 21 merupakan kewajiban perpajakan yang harus dipenuhi oleh wajib pajak setelah menghitung PPh 21 terutang berdasarkan contoh perhitungan PPh 21. Berikut beberapa aspek penting terkait pembayaran PPh 21:
-
Cara Pembayaran PPh 21
Pembayaran PPh 21 dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu pemotongan langsung dari gaji atau upah oleh pihak pemberi kerja (PPh 21 yang dipotong) atau dengan cara menyetor sendiri ke kas negara (PPh 21 yang disetor sendiri).
-
Waktu Pembayaran PPh 21
PPh 21 yang dipotong oleh pihak pemberi kerja dibayarkan setiap bulan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Sementara itu, PPh 21 yang disetor sendiri dibayarkan melalui Surat Setoran Pajak (SSP) dengan batas waktu pembayaran paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.
-
Sanksi Keterlambatan Pembayaran PPh 21
Wajib pajak yang terlambat membayar PPh 21 akan dikenakan sanksi berupa denda dan bunga. Denda keterlambatan sebesar 2% per bulan dihitung dari jumlah PPh 21 yang terutang, sedangkan bunga keterlambatan sebesar 6% per tahun dihitung dari jumlah denda yang terutang.
-
Pentingnya Pembayaran PPh 21 Tepat Waktu
Pembayaran PPh 21 tepat waktu sangat penting untuk menghindari sanksi perpajakan dan memenuhi kewajiban perpajakan sebagai warga negara yang baik. Oleh karena itu, wajib pajak harus mengetahui dan memahami tata cara pembayaran PPh 21 dengan benar.
Dengan memahami hubungan antara pembayaran PPh 21 dan contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghitung, mempersiapkan, dan membayarkan PPh 21 dengan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini penting untuk menghindari sanksi perpajakan dan memenuhi kewajiban perpajakan sebagai warga negara yang baik.
Sanksi keterlambatan
Dalam konteks contoh perhitungan PPh 21, sanksi keterlambatan memegang peranan penting untuk memastikan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Sanksi keterlambatan yang tegas akan mendorong wajib pajak untuk menghitung dan membayarkan PPh 21 secara tepat waktu.
-
Denda Keterlambatan
Salah satu sanksi keterlambatan yang dikenakan kepada wajib pajak yang terlambat membayar PPh 21 adalah denda. Denda ini dihitung sebesar 2% per bulan dari jumlah PPh 21 yang terutang. Denda keterlambatan ini cukup besar dan dapat memberatkan wajib pajak, sehingga menjadi pengingat yang kuat untuk membayar PPh 21 tepat waktu.
-
Bunga Keterlambatan
Selain denda, wajib pajak yang terlambat membayar PPh 21 juga akan dikenakan bunga keterlambatan. Bunga ini dihitung sebesar 6% per tahun dari jumlah denda yang terutang. Bunga keterlambatan ini terus bertambah setiap harinya, sehingga semakin lama wajib pajak menunda pembayaran PPh 21, semakin besar sanksi yang harus ditanggungnya.
Dengan demikian, sanksi keterlambatan yang tegas dalam contoh perhitungan PPh 21 berfungsi sebagai alat untuk mendorong kepatuhan wajib pajak dan memastikan penerimaan negara dari sektor perpajakan. Wajib pajak perlu memahami dan memperhitungkan sanksi keterlambatan ini dalam perhitungan PPh 21 mereka untuk menghindari beban sanksi yang tidak perlu.
Pertanyaan Umum tentang Contoh Perhitungan PPh 21
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum yang sering diajukan terkait dengan contoh perhitungan PPh 21:
Pertanyaan 1: Apa itu contoh perhitungan PPh 21?
Contoh perhitungan PPh 21 adalah ilustrasi atau simulasi tentang bagaimana pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 dihitung dan dibayarkan. Contoh ini membantu wajib pajak memahami cara menghitung PPh 21 dan memperkirakan besarnya pajak yang harus dibayar.
Pertanyaan 2: Mengapa contoh perhitungan PPh 21 penting?
Contoh perhitungan PPh 21 penting karena dapat membantu wajib pajak menghindari kesalahan dalam perhitungan dan pembayaran PPh 21, serta terhindar dari sanksi perpajakan.
Pertanyaan 3: Apa saja komponen yang memengaruhi perhitungan PPh 21?
Komponen yang memengaruhi perhitungan PPh 21 antara lain penghasilan bruto, biaya jabatan, PTKP, tarif PPh 21, dan PPh 21 terutang.
Pertanyaan 4: Bagaimana cara menghitung PPh 21 terutang?
PPh 21 terutang dihitung dengan mengalikan penghasilan neto dengan tarif PPh 21 sesuai dengan lapisan penghasilan yang dikenakan pajak.
Pertanyaan 5: Kapan PPh 21 harus dibayarkan?
PPh 21 yang dipotong oleh pihak pemberi kerja dibayarkan setiap bulan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Sementara itu, PPh 21 yang disetor sendiri dibayarkan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.
Pertanyaan 6: Apa sanksi keterlambatan pembayaran PPh 21?
Wajib pajak yang terlambat membayar PPh 21 akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar 2% per bulan dan bunga sebesar 6% per tahun dari jumlah PPh 21 yang terutang.
Dengan memahami pertanyaan umum ini, diharapkan wajib pajak dapat memperoleh informasi yang jelas dan komprehensif tentang contoh perhitungan PPh 21. Pemahaman yang baik tentang contoh perhitungan PPh 21 akan membantu wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakannya dengan benar dan tepat waktu.
Sumber: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
Tips Pintar Hitung PPh 21
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 merupakan kewajiban yang harus dipenuhi setiap karyawan. Namun, menghitung PPh 21 bisa jadi membingungkan. Nah, berikut beberapa tips pintar yang bisa kamu ikuti:
Tip 1: Pahami Penghasilan Bruto
Penghasilan bruto adalah penghasilan kamu sebelum dikurangi biaya jabatan dan iuran BPJS Ketenagakerjaan. Pastikan kamu mengetahui semua komponen penghasilan bruto, seperti gaji, tunjangan, dan fasilitas.
Tip 2: Manfaatkan Biaya Jabatan
Biaya jabatan adalah pengeluaran yang kamu keluarkan untuk pekerjaan. Kamu bisa mengurangi biaya ini dari penghasilan bruto untuk mengecilkan penghasilan kena pajak. Manfaatkan biaya jabatan secara optimal, seperti biaya transportasi, makan minum dinas, dan kursus.
Tip 3: Ketahui PTKP Kamu
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak. Pastikan kamu mengetahui PTKP yang berlaku sesuai status perkawinan dan jumlah tanggungan. PTKP yang lebih besar akan mengurangi penghasilan kena pajak.
Tip 4: Perhitungkan Tarif PPh 21
Tarif PPh 21 berbeda-beda tergantung penghasilan. Pahami lapisan penghasilan dan tarif PPh 21 yang berlaku untuk menentukan besarnya pajak yang harus kamu bayar.
Tip 5: Hitung PPh 21 Terutang
PPh 21 terutang adalah pajak yang harus kamu bayar setelah memperhitungkan penghasilan neto, PTKP, dan tarif PPh 21. Pastikan kamu menghitung PPh 21 terutang dengan benar untuk menghindari kesalahan bayar.
Tip 6: Bayar Tepat Waktu
Bayar PPh 21 tepat waktu untuk menghindari denda dan bunga keterlambatan. Biasanya, PPh 21 dipotong langsung dari gaji, tetapi kamu juga bisa menyetor sendiri jika ada kekurangan bayar.
Dengan mengikuti tips ini, kamu bisa menghitung PPh 21 dengan lebih mudah dan akurat. Selamat mencoba!
Contoh Perhitungan PPh 21
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 merupakan kewajiban pajak yang harus dipenuhi oleh setiap karyawan. Namun, menghitung PPh 21 bisa jadi rumit jika tidak dipahami dengan baik. Contoh perhitungan PPh 21 sangat penting untuk membantu wajib pajak memahami cara menghitung dan membayarkan pajaknya dengan benar.
Dengan memahami contoh perhitungan PPh 21, wajib pajak dapat menghitung dan memperkirakan besarnya pajak yang harus dibayar. Selain itu, pemahaman yang baik tentang contoh perhitungan PPh 21 juga dapat membantu wajib pajak menghindari kesalahan dalam perhitungan dan pembayaran pajak, sehingga terhindar dari sanksi perpajakan.
Jadi, bagi kamu yang bekerja sebagai karyawan, sangat penting untuk memahami contoh perhitungan PPh 21 agar dapat memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar dan tepat waktu. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli pajak atau pihak yang berwenang jika kamu mengalami kesulitan dalam menghitung PPh 21.