Pemerintahan Jokowi berupaya mengurangi besaran subsidi, terutama untuk sektor energi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban anggaran negara dan mendorong efisiensi penggunaan energi. Namun, pengurangan subsidi juga berdampak pada kenaikan harga BBM dan listrik, yang dapat membebani masyarakat, terutama masyarakat miskin.
Perbandingan besarnya subsidi pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi merupakan isu yang kompleks dan memiliki implikasi yang luas. Di satu sisi, subsidi dapat membantu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan barang atau jasa tertentu, namun di sisi lain juga dapat membebani anggaran negara dan mendorong inefisiensi.
Subsidi Jaman SBY dan Jokowi, Besar Mana?
Subsidi merupakan bantuan pemerintah dalam bentuk uang atau barang untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan barang atau jasa tertentu. Perbandingan subsidi pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi menjadi topik yang menarik untuk dibahas.
- Jumlah: Subsidi pada masa SBY lebih besar dibandingkan masa Jokowi.
- Sektor: Subsidi pada masa SBY banyak dialokasikan untuk sektor energi, sedangkan pada masa Jokowi lebih beragam, termasuk untuk infrastruktur dan sosial.
- Dampak: Subsidi besar pada masa SBY berdampak pada defisit anggaran negara, sedangkan pengurangan subsidi pada masa Jokowi berdampak pada kenaikan harga BBM dan listrik.
- Efisiensi: Pengurangan subsidi pada masa Jokowi mendorong efisiensi penggunaan energi.
- Masyarakat: Subsidi bermanfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin, dalam mengakses barang dan jasa penting.
- APBN: Subsidi membebani APBN, terutama pada masa SBY.
- Harga: Subsidi menjaga harga barang dan jasa tetap terjangkau.
- Inflasi: Pengurangan subsidi dapat memicu inflasi.
- Pertumbuhan ekonomi: Subsidi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi dan investasi.
Perbandingan subsidi pada masa SBY dan Jokowi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pendekatan dalam pengelolaan subsidi. SBY lebih fokus pada menjaga stabilitas harga melalui subsidi besar, sedangkan Jokowi berupaya mengurangi beban APBN dan mendorong efisiensi melalui pengurangan subsidi. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan sosial yang berkembang.
Lebih lanjut, pengelolaan subsidi juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Subsidi untuk bahan bakar fosil, misalnya, dapat mendorong konsumsi energi yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan subsidi yang berwawasan lingkungan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Jumlah
Perbandingan jumlah subsidi pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Hal ini berkaitan erat dengan istilah "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana" yang merujuk pada pertanyaan mengenai besarnya subsidi yang diberikan pada masing-masing masa pemerintahan tersebut.
- Anggaran Negara: Subsidi yang besar pada masa SBY berdampak pada defisit anggaran negara. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membiayai subsidi tersebut.
- Efisiensi: Pengurangan subsidi pada masa Jokowi mendorong efisiensi penggunaan energi. Masyarakat dan dunia usaha menjadi lebih hemat dalam menggunakan energi karena harganya yang lebih mahal.
- Harga: Subsidi yang besar pada masa SBY menjaga harga BBM dan listrik tetap terjangkau. Namun, pengurangan subsidi pada masa Jokowi menyebabkan harga tersebut naik.
- Dampak Sosial: Subsidi yang besar pada masa SBY bermanfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin, dalam mengakses barang dan jasa penting. Pengurangan subsidi pada masa Jokowi dapat membebani masyarakat miskin yang bergantung pada subsidi tersebut.
Perbandingan jumlah subsidi pada masa SBY dan Jokowi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pendekatan dalam pengelolaan subsidi. SBY lebih fokus pada menjaga stabilitas harga melalui subsidi besar, sedangkan Jokowi berupaya mengurangi beban APBN dan mendorong efisiensi melalui pengurangan subsidi. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan sosial yang berkembang.
Sektor
Pada masa pemerintahan SBY, subsidi banyak dialokasikan untuk sektor energi, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga energi dan mengurangi beban masyarakat. Namun, subsidi yang besar ini juga berdampak pada defisit anggaran negara.
Pemerintahan Jokowi berupaya mengurangi beban APBN dengan mengurangi subsidi energi. Sebaliknya, pemerintah menambah alokasi subsidi untuk sektor infrastruktur dan sosial, seperti pembangunan jalan, jembatan, sekolah, dan rumah sakit. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas, pemerataan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat.
Perbedaan alokasi subsidi ini menunjukkan perbedaan prioritas pembangunan pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi. SBY lebih fokus pada menjaga stabilitas ekonomi melalui subsidi energi, sedangkan Jokowi lebih fokus pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan sosial. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan sosial yang berkembang.
Sebagai contoh, subsidi BBM pada masa SBY memang membantu menjaga harga BBM tetap terjangkau, namun juga berdampak pada defisit anggaran negara dan mendorong konsumsi BBM yang tidak efisien. Sebaliknya, pengurangan subsidi BBM pada masa Jokowi memang menyebabkan kenaikan harga BBM, namun juga mendorong masyarakat untuk beralih ke moda transportasi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.
Dengan demikian, perbandingan alokasi subsidi pada masa SBY dan Jokowi memberikan gambaran tentang perbedaan prioritas pembangunan dan pendekatan pengelolaan subsidi. Hal ini menjadi penting untuk dipahami dalam rangka mengevaluasi efektivitas kebijakan subsidi dan merumuskan kebijakan subsidi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Sumber:
- Kebijakan Subsidi Energi
- Prioritas Pembangunan Jokowi 2020-2024
Dampak
Istilah "subsidi jaman SBY dan Jokowi besar mana" tidak hanya merujuk pada perbandingan jumlah subsidi, tetapi juga dampaknya terhadap perekonomian. Subsidi yang besar pada masa SBY memang membantu menjaga stabilitas harga BBM dan listrik, namun juga berdampak pada defisit anggaran negara. Sebaliknya, pengurangan subsidi pada masa Jokowi memang menyebabkan kenaikan harga BBM dan listrik, namun juga mengurangi beban APBN dan mendorong efisiensi penggunaan energi.
Defisit anggaran negara terjadi ketika pengeluaran pemerintah lebih besar dari pendapatannya. Subsidi yang besar dapat memperburuk defisit anggaran negara, karena pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membiayai subsidi tersebut. Sebaliknya, pengurangan subsidi dapat mengurangi defisit anggaran negara, karena pemerintah dapat menghemat pengeluaran untuk subsidi tersebut.
Kenaikan harga BBM dan listrik dapat berdampak negatif terhadap masyarakat, terutama masyarakat miskin. Masyarakat miskin biasanya lebih bergantung pada subsidi BBM dan listrik untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kenaikan harga BBM dan listrik dapat menambah beban pengeluaran masyarakat miskin dan menurunkan kesejahteraan mereka.
Oleh karena itu, perbandingan dampak subsidi pada masa SBY dan Jokowi menjadi penting untuk memahami implikasi ekonomi dari kebijakan subsidi. Subsidi yang besar memang dapat menjaga stabilitas harga, tetapi juga dapat membebani APBN. Sebaliknya, pengurangan subsidi memang dapat menyebabkan kenaikan harga, tetapi juga dapat mengurangi beban APBN dan mendorong efisiensi.
Sumber:
- Kebijakan Subsidi Energi
Efisiensi
Hubungan antara pengurangan subsidi dan efisiensi penggunaan energi pada masa pemerintahan Jokowi erat kaitannya dengan istilah "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana". Pada masa SBY, subsidi energi diberikan dalam jumlah yang besar, yang menyebabkan konsumsi energi yang tidak efisien. Masyarakat cenderung menggunakan energi secara boros karena harganya yang murah. Sebaliknya, pengurangan subsidi pada masa Jokowi mendorong masyarakat dan dunia usaha untuk menggunakan energi secara lebih hemat dan efisien.
Sebagai contoh, pengurangan subsidi BBM pada masa Jokowi menyebabkan harga BBM naik. Hal ini mendorong masyarakat untuk beralih ke moda transportasi umum atau kendaraan bermotor yang lebih hemat bahan bakar. Selain itu, banyak masyarakat yang mulai beralih ke energi alternatif, seperti gas elpiji dan kompor induksi. Di sektor industri, dunia usaha mulai berinvestasi pada teknologi hemat energi untuk mengurangi biaya produksi.
Peningkatan efisiensi penggunaan energi memiliki banyak manfaat, antara lain mengurangi ketergantungan pada energi fosil, menghemat pengeluaran untuk energi, dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Dengan demikian, pengurangan subsidi pada masa Jokowi tidak hanya berdampak pada pengurangan beban APBN, tetapi juga mendorong masyarakat dan dunia usaha untuk menggunakan energi secara lebih bijak dan ramah lingkungan.
Sumber:
- Pengurangan Subsidi BBM Dorong Efisiensi Energi
Masyarakat
Subsidi jaman SBY dan Jokowi besar mana? Pertanyaan tersebut tidak hanya menyangkut jumlah subsidi, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat, terutama masyarakat miskin. Subsidi yang besar pada masa SBY memang membantu menjaga harga barang dan jasa tetap terjangkau, sehingga masyarakat miskin dapat lebih mudah mengakses kebutuhan dasarnya.
- Harga terjangkau: Subsidi menjaga harga barang dan jasa tetap terjangkau, seperti harga BBM, listrik, dan bahan pokok. Hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat miskin yang memiliki keterbatasan pendapatan.
- Kesehatan dan pendidikan: Subsidi juga dialokasikan untuk sektor kesehatan dan pendidikan. Masyarakat miskin dapat mengakses layanan kesehatan dan pendidikan yang layak dengan biaya yang lebih murah, bahkan gratis.
- Transportasi: Subsidi BBM membantu mengurangi biaya transportasi bagi masyarakat miskin. Mereka dapat lebih mudah mengakses tempat kerja, sekolah, dan fasilitas umum lainnya.
- Pertumbuhan ekonomi: Subsidi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan daya beli masyarakat miskin. Mereka dapat menggunakan uang yang dihemat untuk membeli barang dan jasa lainnya, sehingga meningkatkan permintaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, perlu diingat bahwa subsidi juga dapat menimbulkan masalah, seperti defisit anggaran negara dan inefisiensi penggunaan energi. Oleh karena itu, pemerintah perlu mencari cara untuk memberikan subsidi yang tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan, tanpa membebani APBN dan lingkungan hidup.
APBN
Pertanyaan "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana" tidak hanya menyangkut jumlah subsidi, tetapi juga dampaknya terhadap keuangan negara. Subsidi yang besar pada masa SBY membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama karena sebagian besar subsidi dialokasikan untuk sektor energi.
- Defisit anggaran: Subsidi yang besar dapat menyebabkan defisit anggaran, yaitu ketika pengeluaran pemerintah lebih besar dari pendapatannya. Pada masa SBY, defisit anggaran mencapai sekitar 2,5% dari PDB, sebagian besar disebabkan oleh subsidi energi.
- Utang negara: Untuk menutupi defisit anggaran, pemerintah terpaksa berutang. Utang yang semakin besar dapat membebani keuangan negara dan menghambat pembangunan di masa depan.
- Alokasi anggaran: Subsidi yang besar mengurangi alokasi anggaran untuk sektor-sektor lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
- Efisiensi: Subsidi yang besar dapat mendorong konsumsi yang tidak efisien. Masyarakat cenderung menggunakan energi secara boros karena harganya yang murah, sehingga membebani APBN dan lingkungan hidup.
Dengan demikian, beban APBN akibat subsidi pada masa SBY menjadi salah satu faktor penting dalam membandingkan "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana". Pemerintah perlu mencari cara untuk memberikan subsidi yang tepat sasaran dan efisien, tanpa membebani keuangan negara.
Harga
Dalam perbincangan mengenai "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana", topik harga menjadi salah satu aspek penting untuk dibahas. Subsidi pemerintah memiliki peran krusial dalam menjaga harga barang dan jasa tetap terjangkau, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
- Menjaga daya beli masyarakat: Subsidi membantu masyarakat mempertahankan daya beli mereka. Dengan harga barang pokok yang terjangkau, masyarakat dapat mengalokasikan pendapatannya untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan dan kesehatan.
- Mengurangi kemiskinan: Subsidi yang tepat sasaran dapat membantu mengurangi kemiskinan. Masyarakat miskin yang kesulitan membeli kebutuhan pokok dapat terbantu dengan adanya subsidi.
- Stabilitas ekonomi: Harga barang dan jasa yang stabil dapat menciptakan stabilitas ekonomi. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan fluktuasi harga yang drastis, sehingga dapat merencanakan pengeluaran dengan lebih baik.
- Pertumbuhan ekonomi: Subsidi yang tepat sasaran dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Masyarakat yang memiliki daya beli yang baik akan cenderung berbelanja dan berinvestasi, sehingga menggerakkan roda perekonomian.
Dengan memahami peran subsidi dalam menjaga harga barang dan jasa tetap terjangkau, kita dapat melihat bagaimana isu "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana" memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian secara keseluruhan.
Inflasi
Dalam pembahasan tentang "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana", topik inflasi menjadi faktor penting untuk dibahas. Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Pengurangan subsidi pemerintah dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi.
- Dampak langsung: Pengurangan subsidi secara langsung menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa yang disubsidi. Misalnya, pengurangan subsidi BBM akan menaikkan harga bensin dan solar, yang berdampak pada sektor transportasi dan logistik.
- Dampak tidak langsung: Pengurangan subsidi juga dapat memicu inflasi secara tidak langsung. Kenaikan harga barang dan jasa yang disubsidi akan berdampak pada biaya produksi sektor usaha. Untuk menutupi biaya tersebut, dunia usaha dapat menaikkan harga jual produknya, yang pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen.
- Ekspektasi inflasi: Pengurangan subsidi dapat menciptakan ekspektasi inflasi di masyarakat. Ketika masyarakat memperkirakan harga akan terus naik, mereka cenderung melakukan pembelian secara besar-besaran (panic buying) untuk menghindari kerugian di masa depan. Hal ini dapat memperburuk inflasi.
- Dampak sosial dan ekonomi: Inflasi yang tinggi dapat berdampak negatif pada masyarakat, terutama masyarakat miskin dan kelompok pendapatan tetap. Daya beli masyarakat akan menurun, sehingga kesejahteraan mereka terganggu. Inflasi juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi karena ketidakpastian dan penurunan investasi.
Dengan memahami hubungan antara pengurangan subsidi dan inflasi, kita dapat melihat bagaimana isu "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana" memiliki implikasi signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi
Ketika membahas perbandingan "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana", salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan adalah dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Subsidi yang diberikan pemerintah dapat berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi dan investasi.
- Meningkatkan daya beli masyarakat: Subsidi dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan bertambahnya daya beli, masyarakat akan cenderung membeli lebih banyak barang dan jasa, sehingga meningkatkan konsumsi dan menggerakkan roda perekonomian.
- Meningkatkan investasi: Subsidi yang tepat sasaran dapat mendorong investasi di sektor-sektor penting, seperti infrastruktur dan pendidikan. Ketika sektor-sektor tersebut berkembang, akan tercipta lapangan kerja baru dan peluang ekonomi baru, yang pada akhirnya dapat memacu pertumbuhan ekonomi.
Dengan memahami bagaimana subsidi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, kita dapat melihat bahwa isu "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana" memiliki implikasi yang luas terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Tanya Jawab tentang "subsidi jaman sby dan jokowi besar mana"
Saat membandingkan subsidi pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi, sering kali muncul pertanyaan yang sama dari masyarakat. Berikut adalah beberapa Tanya Jawab yang dapat membantu kita memahami topik ini dengan lebih baik:
Pertanyaan 1: Manakah yang lebih besar, subsidi pada masa SBY atau Jokowi?
Secara umum, subsidi pada masa SBY lebih besar dibandingkan pada masa Jokowi. Hal ini disebabkan oleh fokus pemerintah SBY pada menjaga stabilitas harga BBM dan listrik melalui pemberian subsidi yang besar.Pertanyaan 2: Mengapa subsidi pada masa Jokowi berkurang?
Pemerintahan Jokowi berupaya mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta mendorong efisiensi penggunaan energi. Oleh karena itu, pemerintah mengurangi subsidi, terutama pada sektor energi, dan mengalihkan alokasi subsidi ke sektor lain yang lebih produktif.Pertanyaan 3: Apa dampak pengurangan subsidi pada masa Jokowi?
Pengurangan subsidi pada masa Jokowi berdampak pada kenaikan harga BBM dan listrik. Namun, hal ini juga mendorong masyarakat dan dunia usaha untuk menggunakan energi secara lebih efisien.Pertanyaan 4: Mana yang lebih menguntungkan, subsidi besar atau pengurangan subsidi?
Baik subsidi besar maupun pengurangan subsidi memiliki kelebihan dan kekurangan. Subsidi besar dapat menjaga stabilitas harga, tetapi membebani APBN. Pengurangan subsidi dapat mengurangi beban APBN dan mendorong efisiensi, tetapi dapat menyebabkan kenaikan harga.Pertanyaan 5: Bagaimana cara pemerintah memberikan subsidi secara tepat sasaran?
Pemerintah dapat memberikan subsidi secara tepat sasaran melalui berbagai cara, seperti: menggunakan sistem verifikasi dan validasi data untuk memastikan subsidi diterima oleh masyarakat yang berhak, dan menyalurkan subsidi melalui mekanisme yang tepat, seperti kartu subsidi atau bantuan langsung tunai.Dengan memahami Tanya Jawab ini, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang perbandingan subsidi pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi. Permasalahan subsidi merupakan isu yang kompleks dan memerlukan pertimbangan yang matang untuk menemukan keseimbangan antara menjaga stabilitas harga, mengurangi beban APBN, dan mendorong efisiensi penggunaan energi.
Sumber:
- Kebijakan Subsidi Energi
- Prioritas Pembangunan Jokowi 2020-2024
Tips Jitu Bandingin Subsidi Jaman SBY dan Jokowi
Buat yang penasaran sama perbandingan subsidi di zaman SBY dan Jokowi, simak tips jitu ini ya!
Tips 1: Cek Jumlahnya
Secara umum, subsidi zaman SBY memang lebih gede dibanding zaman Jokowi. Soalnya, pemerintah SBY waktu itu fokus jaga harga BBM dan listrik biar tetap stabil.
Tips 2: Perhatikan Sektornya
Nah, zaman Jokowi, subsidi lebih beragam. Nggak cuma buat energi, tapi juga buat infrastruktur kayak jalan dan jembatan, sama pembangunan sosial kayak sekolah dan rumah sakit.
Tips 3: Dampaknya Beda
Subsidi gede zaman SBY bikin harga BBM dan listrik tetap terjangkau. Tapi, APBN jadi berat. Sebaliknya, pengurangan subsidi zaman Jokowi bikin harga naik, tapi beban APBN berkurang dan energi dipake lebih hemat.
Tips 4: Efisiensi yang Penting
Pengurangan subsidi zaman Jokowi itu ternyata dorong kita buat pake energi lebih bijak. Masyarakat jadi beralih ke transportasi umum atau kendaraan irit bahan bakar. Dunia usaha juga investasi di teknologi hemat energi.
Tips 5: Jangan Lupa Masyarakat
Subsidi itu penting buat masyarakat, apalagi yang kurang mampu. Subsidi bikin harga kebutuhan pokok tetap terjangkau. Tapi, pemerintah harus pinter kasih subsidi yang tepat sasaran biar nggak membebani keuangan negara.
Nah, dengan tips-tips ini, kamu udah bisa banding-bandingin subsidi zaman SBY dan Jokowi dengan lebih jelas. Intinya, setiap kebijakan punya kelebihan dan kekurangan, dan pemerintah perlu cari keseimbangan yang pas.
Subsidi Zaman SBY dan Jokowi
Pertanyaan tentang besarnya subsidi di zaman pemerintahan SBY dan Jokowi memang menarik untuk kita bahas. Zaman SBY, subsidi memang lebih besar, terutama untuk energi seperti BBM dan listrik. Tujuannya sih baik, yaitu untuk menjaga harga tetap stabil. Tapi sayangnya, subsidi yang gede ini bikin keuangan negara jadi berat.
Nah, zaman Jokowi, subsidinya dikurangi. Tapi tenang aja, pengurangan ini nggak serta merta bikin harga langsung naik drastis. Pemerintah pintar-pintar cari cara biar subsidinya tetap tepat sasaran. Selain itu, pengurangan subsidi ini juga bikin kita jadi lebih hemat energi. Kita jadi lebih suka naik kendaraan umum atau pakai kendaraan yang lebih irit bahan bakar. Keren, kan?
Jadi, siapa yang lebih besar subsidinya, SBY atau Jokowi? Tergantung dari sudut pandang kita. Kalau dilihat dari jumlahnya, SBY memang lebih besar. Tapi kalau dilihat dari penggunaannya, Jokowi lebih tepat sasaran dan mendorong kita untuk lebih hemat energi. Yang jelas, setiap kebijakan punya kelebihan dan kekurangannya. Pemerintah harus pintar-pintar cari keseimbangan biar semua masyarakat bisa merasakan manfaatnya.